Selasa, 17 April 2012

Derita sang jiwa

Dimanakah akan kutemukan jalan cahaya yang membuatku mampu melihat keindahan yang ada di sekitarku?
Dimanakah akan kutemukan malaikat dengan sayap putihnya yang akan membawaku kembali pada duniaku dan tak lagi meninggalkan aku. 

Jelaga hitam dan tertanam dalam benak yang hampa, mengharap pada kerinduan. 
Jaring-jaring penghalang yang muncul dan membekas dalam benak, mematikan nurani, menghimpit jiwa yang berteriak kesakitan. 
Adakah jiwa yang akan berada dalam diriku, yang menyenandungkan puji-pujian dan kata-kata indah untuk kemudian kusimpan dalam kotak memori? 
Ataukah kotak pandora telah terbuka dan kemudian mematikan jiwa yang memiliki makna untuk mencari dalam kehidupan pasti dan kemudian malah mati ditelan oleh nurani yang berteriak mencari kepastian dalam ketiadaan? 


Kasihan sang jiwa... Mungkin air matanya telah habis. Tiada lagi kata-kata yang mampu memberikan secercah cahaya untuk bisa disimpan didalamnya.. 




Berdiri sendiri

Tak ada dia.. yang ada hanya aku dalam kesesakan dan mencari dimana ada kelegaan.
Tak ada seorang pun yang bisa membuatku menemukan cahaya. Tak ada.
Menyadari akan ketidak pastian ini aku mencoba untuk percaya pada diriku sendiri. Tanpa siapapun. Semakin aku mencoba untuk menemukan seseorang yang akan mengisi kehidupanku, semakin hampa aku menjadi. Semakin dalam kuselami makna yang ada di hatiku, semakin sepi aku terhempas..

Mencari kepastian dalam tiap detik yang bergulir, namun yang kutemukan tak ada..
Kucoba bernafas di tengah kebimbangan dan himpitan yang semakin keras berada dalam benakku dan hati yang mendamba pada kelegaan.

Ya, Tuhan.. Dimanakah aku berada? Ataukah aku sekarang hanya sebongkah  batu? Tak bergerak. Diam. Tak bernapas. Tak berpikir. Tak memiliki apapun. Mati.


Senin, 09 April 2012

Alkisah di tengah kehidupan

Aku terbagun dalam kenangan yang dalam. Aku kembali bernapas dan merasakan sesak yang  belum juga hilang. Pagi ini aku mencari namun belum juga menemukan. Kala rasa itu datang, ingin rasanya terus aku simpan untuk kemudian bisa menjadi sesuatu yang baru dari aku, tapi aku tahu  jika itu tidak akan selamanya begini. Itu akan pergi, itu akan hilang, dan aku kembali dalam kebimbangan.

Aku menertawakan diriku dan kemudian duniaku. Kenapa semuanya terasa seperti permainan? Yang datang kemudian pergi. Secepat angin berhembus. Aku ingin menertawakan keadaan yang membuatku terombang-ambingkan dan kemudian menjatuhkan aku diatas rerumputan hijau dan kemudian berubah kembali menjadi telaga hitam yang menenggelamkan aku. 

Aku takjub, dan begitu kecewa dengan apa yang ada. 

Aku  pernah membaca sebuah buku tentang masa kecil Yesus, dimana ada orang-orang yang melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain, dan kala itu Yesus, Maria dan Yusuf ada di antara mereka. Mereka memadahkan pujian kepada Tuhan dan bernyanyi terus sepanjang perjalanan.. Aku pun ingin melakukan perjalan seperti itu. Berjalan di dalam kehidupanku dan memadahkan pujian serta permohonon dalam setiap kesedihan dan kepenatanku. Berusaha untuk menjadi kuat oleh karena kekuatanNya yang dicurahkan kepadaku. 


Ya, Tuhanku, Gunung Batuku, perisai yang akan menghancurkan kepedihanku. Kuatkan aku dan berilah kelegaan di hatiku. Janganlah kiranya Engkau berpaling dariku, namun berikan aku wajahMu dan biarlah aku memandangnya. Jangan hindarikan diriMu dari teriakan kesakitan dan kepedihanku, namun berikan aku cintaMu agar aku kembali menjadi hidup. Janganlah menghancurkan aku di tengah kefanaan ini, namun bentuklah aku seturut kehendakuMu. 

Engkaulah kekuatan dan keberanian yang melingkupi dasar hatiku.. Engkaulah kekuatan dan keberanian yang selalu mendampingiku.  Berikan aku kekuatan dalam kepedihan, dan pergunakan aku agar menjadi kekuatan pula bagi duniaku. Janganlah kiranya Engkau meninggalkan aku, karena aku tidak bisa melangkah dalam kesendirianku.. Tuhan Allahku, Engkaulah kekuatan abadiku. 


-Oh, Yesusku... 
Biarlah lukaMu menjadi bagian dari diriku untuk menjadi penebusan bagi dosa-dosaku. Agar aku bisa merasakan cinta kasihMu yang begitu besar dari luka-lukamu dan berikan aku kekuatan dalam namaMu. -


Aku melangkah dalam kesunyian malam, dan gemerlap kota tak lagi nampak indah bagiku. Yang terlihat hanya dosa. Yang terlihat hanya kehampaan di tengah gemerlap. Yang terlihat hanya kebinasaan di tengah kemewahan dalam kehidupan. 

Aku tak bisa lagi menahan tawa.. Ini seperti permainan, dan aku adalah pion dari permainan itu.. Kemana langkahku, disana ada hidup atau matiku. 


Jakarta, 10.01








Dunia dan Hilang

Mencoba merangkai hari dari seripihan-serpihan memori yang tersisa.
Tidak terlihat namun dirasa
Tidak terjamah namun abadi
Aku lelah mencari dan lelah untuk menanti.
Meraba dan belum juga menemukan apa yang aku kehendaki.
Mungkin lonceng diatas menara itu sudah berkali-kali berbunyi dan saatnya untuk aku pun kembali
Tapi dimana jalanku? Tak kutemukan arahnya dan aku hanya diam meratapi kesesatan yang semakin lama semakin pekat dan menenggelamkan aku dalam tinta dunia yang hitam.
Dunia yang hilang akankah kembali? Tak perduli lagi pada tangis kekelaman yang terisak dan mencari kebenaran. Tak perduli lagi pada tangisan sang nestapa bersama dewi yang tertidur dalam peraduan malam dan mencari dan kemudian terlelap, dan kemudian tak lagi ada untuk aku bisa kembalikan maknanya.
Dunia yang hilang.. akankah kutemukan? Ataukah hanya akan menjadi kenangan yang perlahan akan lenyap? Ataukah akan tersimpan di dalam, di lubuk yang terdalam yang kemudian perlahan menjadi luka yang semakin menyakitkan ataukah akan meninggalkan semburat merah di dalam hatiku yang memberikan kebahagiaan?
Mentari masih menanti. Hujan turun dan menorehkan tangis yang memicu kepenatan..

Oh, Tuhan.. Inikah yang disiratkan dari kehidupan? Masa lalu dan kenangan yang kemudian mematikan langkah, ataukah masa depan dan impian yang menghidupkan kembali jiwa yang telah lama mati?

Aku dan kenangan berjalan beriringan. Aku dan impian mencoba untuk merangkai kehidupan.


Jakarta, 09.43




Yang lelah dan mencari
Yang menanti dan entah kemana lagi harus melangkahkan kaki. 
Aku dan semburat merahku. 
Mentari yang hilang di ufuk timur, untuk kembali tergantikan rembulan dan bintang yang setia menemaninya. 
Dunia dan tangis.