Mencoba merangkai hari dari seripihan-serpihan memori yang tersisa.
Tidak terlihat namun dirasa
Tidak terjamah namun abadi
Aku lelah mencari dan lelah untuk menanti.
Meraba dan belum juga menemukan apa yang aku kehendaki.
Mungkin lonceng diatas menara itu sudah berkali-kali berbunyi dan saatnya untuk aku pun kembali
Tapi dimana jalanku? Tak kutemukan arahnya dan aku hanya diam meratapi kesesatan yang semakin lama semakin pekat dan menenggelamkan aku dalam tinta dunia yang hitam.
Dunia yang hilang akankah kembali? Tak perduli lagi pada tangis kekelaman yang terisak dan mencari kebenaran. Tak perduli lagi pada tangisan sang nestapa bersama dewi yang tertidur dalam peraduan malam dan mencari dan kemudian terlelap, dan kemudian tak lagi ada untuk aku bisa kembalikan maknanya.
Dunia yang hilang.. akankah kutemukan? Ataukah hanya akan menjadi kenangan yang perlahan akan lenyap? Ataukah akan tersimpan di dalam, di lubuk yang terdalam yang kemudian perlahan menjadi luka yang semakin menyakitkan ataukah akan meninggalkan semburat merah di dalam hatiku yang memberikan kebahagiaan?
Mentari masih menanti. Hujan turun dan menorehkan tangis yang memicu kepenatan..
Oh, Tuhan.. Inikah yang disiratkan dari kehidupan? Masa lalu dan kenangan yang kemudian mematikan langkah, ataukah masa depan dan impian yang menghidupkan kembali jiwa yang telah lama mati?
Aku dan kenangan berjalan beriringan. Aku dan impian mencoba untuk merangkai kehidupan.
Jakarta, 09.43
Yang lelah dan mencari
Yang menanti dan entah kemana lagi harus melangkahkan kaki.
Aku dan semburat merahku.
Mentari yang hilang di ufuk timur, untuk kembali tergantikan rembulan dan bintang yang setia menemaninya.
Dunia dan tangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar