Aku menertawakan diriku dan kemudian duniaku. Kenapa semuanya terasa seperti permainan? Yang datang kemudian pergi. Secepat angin berhembus. Aku ingin menertawakan keadaan yang membuatku terombang-ambingkan dan kemudian menjatuhkan aku diatas rerumputan hijau dan kemudian berubah kembali menjadi telaga hitam yang menenggelamkan aku.
Aku takjub, dan begitu kecewa dengan apa yang ada.
Aku pernah membaca sebuah buku tentang masa kecil Yesus, dimana ada orang-orang yang melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain, dan kala itu Yesus, Maria dan Yusuf ada di antara mereka. Mereka memadahkan pujian kepada Tuhan dan bernyanyi terus sepanjang perjalanan.. Aku pun ingin melakukan perjalan seperti itu. Berjalan di dalam kehidupanku dan memadahkan pujian serta permohonon dalam setiap kesedihan dan kepenatanku. Berusaha untuk menjadi kuat oleh karena kekuatanNya yang dicurahkan kepadaku.
Ya, Tuhanku, Gunung Batuku, perisai yang akan menghancurkan kepedihanku. Kuatkan aku dan berilah kelegaan di hatiku. Janganlah kiranya Engkau berpaling dariku, namun berikan aku wajahMu dan biarlah aku memandangnya. Jangan hindarikan diriMu dari teriakan kesakitan dan kepedihanku, namun berikan aku cintaMu agar aku kembali menjadi hidup. Janganlah menghancurkan aku di tengah kefanaan ini, namun bentuklah aku seturut kehendakuMu.
Engkaulah kekuatan dan keberanian yang melingkupi dasar hatiku.. Engkaulah kekuatan dan keberanian yang selalu mendampingiku. Berikan aku kekuatan dalam kepedihan, dan pergunakan aku agar menjadi kekuatan pula bagi duniaku. Janganlah kiranya Engkau meninggalkan aku, karena aku tidak bisa melangkah dalam kesendirianku.. Tuhan Allahku, Engkaulah kekuatan abadiku.
-Oh, Yesusku...
Biarlah lukaMu menjadi bagian dari diriku untuk menjadi penebusan bagi dosa-dosaku. Agar aku bisa merasakan cinta kasihMu yang begitu besar dari luka-lukamu dan berikan aku kekuatan dalam namaMu. -
Aku melangkah dalam kesunyian malam, dan gemerlap kota tak lagi nampak indah bagiku. Yang terlihat hanya dosa. Yang terlihat hanya kehampaan di tengah gemerlap. Yang terlihat hanya kebinasaan di tengah kemewahan dalam kehidupan.
Aku tak bisa lagi menahan tawa.. Ini seperti permainan, dan aku adalah pion dari permainan itu.. Kemana langkahku, disana ada hidup atau matiku.
Jakarta, 10.01
Tidak ada komentar:
Posting Komentar