Jadi pada hari ini aku mencoba.. Mencoba untuk membuka pikiran akan dunia baruku dan membuka hati untuk hati baru yang bisa mencintaiku.. Cinta? Sebaiknya aku koreksi kata-kata itu.. Sayang, mungkin.
Aku berharap akan menemukan menara kokoh yang akan menjadi tempatku bernaung, memberikan aku kehangatan yang selama ini aku rindukan. Aku coba menanti menara yang akan menerima aku apa adanya.. dan memberikan tempat perlindungan sejati yang akan membawaku pada kebahagiaan yang akan kudapatkan di kehidupan baru yang sebelumnya pernah aku masuki tapi harus aku tinggalkan, karena suatu hal yang berbeda. Perbedaan yang tidak bisa untuk disatukan.
Kembali aku teringat pada dia ketika aku membicarakan perbedaan ini. Siapkah aku melepaskannya?
Siapkah aku melepaskan seseorang yang aku cintai karena perbedaan ini?
Bagaimanakah aku harus menyikapinya? Berpaling pada menara yang lain,yang masih aku ragukan pelitanya, ataukah mempertahankan menara yang telah lama kutinggali dengan pelita yang selalu bercahaya dan berhasil menghangatkan aku kala aku merasa kedinginan dari luar menara??
Aku merasa aku adalah orang yang jahat saat ini karena aku meninggalkan menara yang selama ini telah menjadi tempat bagi aku untuk berlindung. Tempat yang selama ini menjadi tempat pelarianku dari dunia yang mencoba hancurkanku. Menara yang selalu ada, dia statis, tidak bergerak, ketika aku ingin berada di dalamnya.
Aku pasti akan sangat merindukan menara itu. Menara yang indah, yang kokoh, yang hangat, tidak pernah akan tergantikan oleh menara manapun. Kendati aku menemukan menara baru yang bisa berikan aku kehangatan, pasti akan terasa berbeda dengan menara yang telah berikan aku kenyamanan di dalamnya selama bertahun-tahun.
Aku akan sangat merindukan menara itu. Aku sangat mencintainya..
Mencintai sebuah menara yang dulu tidak sekokoh sekarang, tapi aku telah mencoba untuk membangunnya menjadi lebih kokoh. Kejamnya aku yang telah meninggalkan menara yang selalu ada untuk aku. Jahatnya aku telah mengkhianati menaraku demi menara lain yang belum jelas rasanya padaku.
Kepada siapa aku harus mencurahkan kekecewaanku akan keadaan? Akan perbedaan? Akan segala sesuatu yang membuatku harus angkat kaki dari menara itu. Menara Jinggaku.. Ya.. Dia telah pergi.. Tidak, aku yang pergi pertama dan kemudian dia pun akan pergi.. Akan menghilang, dan kemudian dia menjadi fatamorgana di tengah padang tandus. Menara Jinggaku.. Menaraku.. Dia pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar