Kamis, 05 Januari 2012

Tangis tanpa suara

aku ingin hidup dengan barisan puisi yang mengisi relung-relung jiwaku
yang hidup dan mati dalam nama cinta
yang tersiksa karena adanya dusta dan kemudian bahagia dalam rengkuhan purnama jingga
aku sendiri dalam keramaian
dan aku berteriak dalam kesunyian pekat
tanpa nada, tanpa suara, tanpa melodi apapun yang menggema di jiwa
telah lama kutemukan kematian sang pelita
telah lama kutemukan kematian sang jiwa yang merana
coba berontak namun tak guna
coba menyerang namun tak kuasa
pekat dan hitamku dalam lantunan nyanyian sang malaikat  hitam yang terbang pergi menuju menara jingga itu membuatku tak berdaya dan tak lagi mampu ucapkan kata-kata
hancurkan duniaku, dia yang menginginkannya
hancurkan nyawaku dalam permainan sangkakalanya. Apa maunya? dia hancurkan semuanya. Dia berikan sembilu yang melukai hati, dia berikan tangis yang menyesak di dada
Pedihku adalah nyanyiannya
Tangisku adalah sukanya
Kejamnya dalam tarian nirwananya, dan kesedihannya tak kan ada selama aku terus terluka
Ohh..jiwa fana yang mengharap fajar.. jiwa fana yang bergulir dalam malam, yang teronggok dan mati ditelan bumi, yang terluka dalam nestapa

tanpa jiwa.. tanpa suara.. tak  bernyawa..

aku sendiri disini, masih melantukan nyanyian sunyi.. akankah kutemukan cahaya untuk hilangkan segala luka??



Jakarta, 05 January 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar